Di tengah bising dunia, jiwa mulai hampa,
Generasi lemah, langkah kian rapuh.
Lupa pada Cinta, pada rasa yang utama,
Terjebak fatamorgana, di zaman yang gaduh.
Jati diri terabaikan, etika perlahan menghilang,
Mengira leluhur Sunda, hanya kisah usang.
Kami saksikan hening, di mana generasi mulai terkepung sunyi dalam gempita malam.
Mereka tumbuh tanpa akar, tanpa mahkota yang melahirkan Keresahan sebagai cambuk, bagi kami yang masih berdiri.
Maka lahirlah tekad, di jantung, Purwakarta, kota para pemimpi,
Sebuah Api Sunda Semesta yang melampaui teritori,
Bergerak serempak, tak hanya janji, tapi sebuah ikrar membara: "Marilah bersama...
kita ukir kembali, sejarah!!"
Mahkota Binokasih,
welas asih abadi yang nyata,
Filosofi luhur yang menuntun aksi,
mengubah mimpi menjadi cahaya.
Dengarkanlah seruannya yang tegas dan merdu:
"Hayu Silih Asah!
Membangun kecerdasan, menguatkan karakter, menjunjung martabat Kesundaan yang takkan lekang oleh zaman".
Dua Kujang yang saling mengapit,
lambang Silih Asuh sejati,
Melindungi rakyat, dengan kebijakan hakiki,
Silih Asah, Asih, Asuh,
Tiga serangkai yang tak terpisah..
Inilah! Mahkota Binokasih!
Menolak untuk pasrah, meratapi maupun melemah.
Gerakan ini terukur, langkahnya pasti,
bukan sekadar imajinasi liar,
Empat Pintu Gerbang Kemuliaan, membebaskan kita dari langkah yang tersasar.
Mulai dengan Menggapai Asa, menabur benih optimisme di ladang jiwa yang gersang,
Agar setiap hati percaya, bahwa masa depan adalah hak yang harus diperjuangkan.
Kemudian Merengkuh Cita, saatnya menapaki jalan, konsolidasi aksi merangkai kekuatan,
Mengubah hasrat menjadi rencana, menembus kabut keraguan.
Setiap insan menyimpan karsa.
Kemampuan generasi unggul.
Berlanjut pada Mewujud Karya, panggung di mana kemandirian menjadi pahalawan,
Inovasi nyata tercipta, hadirkan aroma kebajikan, memetik buah kesejahteraan.
Dan puncaknya, Meraih "Istimewa".
Purwakarta memancarkan spiritnya,
Lalu seluruh Jawa Barat, menjadi mercusuar dengan sinar menembus cakrawala.
Jawa Barat, " Istimewa! "
Kami berdiri tegak, sebagai Sosial Enterprais, menolak uluran tangan yang mengikat,
Sebab keberlanjutan adalah martabat,
Ikrar yang harus kami pikul dan angkat.
Kembali menjadi nadi, menyucikan jiwa, bersihkan area, membiayai program tanpa jeda.
Lahirlah kebangkitan bagi mimpi yang tertunda,
Inilah Api Sunda Semesta, yang terus menyala, takkan pernah merana.
Wahai saudara sebangsa, marilah kita bersatu dalam satu spirit yang sama.
Sunda tak sebatas suku. Tapi nilai adi luhung tanpa batas teritorial.
Bangkitkan ruh leluhur, kikis habis keresahan yang membuat kita terpukau tanpa perubahan.
Menjadi, lebih baik...
Tinggalkan Balasan